Anakku,
Teduhkan batinmu
Purnama bersimpuh memohon kemurahanmu
Turunlah dari singasana kematian itu.
Janganlah kerinduanmu akan keindahanmu
engkau jadikan kerinduan bayi pada susu sang ibu.
Anakku,
Jangan turuti gelora hati
dewa-dewa belum saatnya mati.
Lihatlah kedua mata tua ini,
basah darah korban sunyi.
Anakku,
Puisi ini bukan kata-kata,
tapi kehidupan yang nyata.
Kehidupan hati yang tak hadir di wadag dunia.
Bapa.
Jeritku tertahan di dada
teriakanku tiada daya
Dalam hampa semua musna,
Jangankan manusia,
Dewapun tlah sirna.
Anakku,
Hatimu adalah embun pagi.
Tetes air yang tak terusik sinar mentari
Tak perlu berkecil hati
Para dewa telah mati.
Anakku
Puisiku adalah jalan
Bagi pencari pemahaman
Kehidupan sejati akan mendapatkan badan
Dalam ketiadaan dan kematian.
Bapa,
”Cinta telah menyeretku ke dalam samudra.
Ombaknya melemparkanku ke puncak dunia.
Aku menggigil oleh kehangatannya.
Cahya mentari serasa bulan purnama.
Helai rambutku bak bunga tanjung yang tumbuh mekar dihadapan kenanga.”
Anakku
Sungai adalah kehidupan
Selaksa hikmah tak terperikan
Sejuta cahaya indah di kedalaman
Udara segar dipermukaan.
Biru langit yang dipantulkan.
Semestinya engkau tinggal bersamanya.
Kenalilah dia.
Belajarlah mencintainya
Maka terbukalah sejuta rahasia.
Bapa,
Sungai ini bening adanya.
Ribuan warna menyesap mata.
Suapi hatiku dengan ribuan makna.
Rahasia kehidupankah yang diberikannya?
Dia terus mengalir dengan ketetapannya.
Tetap berjalan dalam kerinduannya.
Kerinduan itu selalu memperbaruinya.
Anakku,
Mengertikah keterbaharuan itu?
Ia adalah keabadian bagimu.
Dalam keabadianmu,
Waktu bukanlah bagian hidupmu.
Bapa,
Kenapa senyumku menghentikan gerak purnama?
Sedangkan sungai di manapun sama.
Lahir dari mata air, berahir di muara.
Terjun dari ketingian, melata diantara bukit dan sela.
Menelentang di samudera raya.
Romantis dalam hujan gerimis
Deru ombaknya yang miris
Banjir yang tragis.
Ramah menjamah padi dan sawah
gemericik membelai gadis cantik
mesra menyapa para perempuan desa.
Kamis, 19 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar